Coba cek bio Instagram atau profile media sosial teman-teman, jemaat, aktivis gereja, atau kenalan Anda. Banyak sekali Anda akan menemukan kombinasi 4 huruf seperti: INFJ, ESTP, atau ENFP dan masih ada kombinasi lainnya.
ya benar mungkin Anda juga sudah tahu bahwa ini adalah hasil test psikologi MBTI. Ini adalah bahasa gaul untuk mengenal orang secara instan. ketika kita lihat 4 huruf milik seseorang, seolah-olah kita sudah dapat mengenal orang ini, seolah-olah kita sudah tahu apakah akan cocok berteman dengan orang ini atau tidak.
Pertanyaan yang saya pikirkan dan ingin ajak Anda untuk memikirkan nya juga hari ini: Apakah benar manusia yang begitu kompleks bisa diringkas hanya dengan empat huruf? Apakah benar kita bisa mengidentifikasi karakter orang hanya dengan 16 kelompok karakter?
Mengenal Test MBTI
MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator sebenarnya bukan barang baru. Alat ini dikembangkan oleh ibu dan anak, Katharine Briggs dan Isabel Myers, selama Perang Dunia II. Mereka terinspirasi dari teori psikolog terkenal, Carl Jung.
Tujuannya mulia: membantu orang memahami preferensi alaminya—bagaimana mereka mendapatkan energi, menyerap informasi, dan mengambil keputusan. Namun, penting untuk diingat bahwa penciptanya bukanlah psikolog klinis, melainkan pengamat perilaku yang ingin membawa teori rumit Jung ke tingkat yang lebih praktis bagi orang awam.
Energi: Extrovert (E) vs Introvert (I)
Ini bukan soal “pemberani” atau “pemalu”, tapi soal dari mana Anda mendapatkan energi?
Extrovert mendapatkan energi dari interaksi sosial dan dunia luar, sementara Introvert mengisi baterai energinya melalui waktu sendirian dan refleksi internal.
Informasi: Sensing (S) vs Intuition (N)
ini bicara tentang bagaimana Anda menyerap informasi?
Sensing fokus pada fakta yang nyata, detail, dan apa yang sedang terjadi sekarang. Intuition lebih suka melihat pola, kemungkinan masa depan, dan gambaran besar (ide abstrak).
Keputusan: Thinking (T) vs Feeling (F)
ini bicara tentang apa dasar Anda dalam mengambil keputusan?
Thinking mengutamakan logika objektif, kebenaran, dan analisis sebab-akibat. Feeling lebih mempertimbangkan nilai-nilai pribadi, harmoni hubungan, dan dampak keputusan bagi orang lain (empati).
Lifestyle: Judging (J) vs Perceiving (P)
Ini bicara tentang bagaimana cara Anda mengatur hidup atau urusan sehari-hari?
Judging menyukai struktur, rencana yang matang, dan kepastian (semuanya harus terjadwal). Perceiving lebih suka fleksibilitas, spontanitas, dan membiarkan pilihan tetap terbuka.
Mengapa Kita Menyukai MBTI?
Kita harus jujur, MBTI populer karena ia memberikan beberapa manfaat:
Validasi Diri: Rasanya menyenangkan ketika ada tes yang seolah-olah “memahami” kerumitan isi kepala kita. “Oh, pantesan aku sering butuh waktu sendiri, aku kan Introvert.”
Bahasa Komunikasi: Di dalam tim atau pelayanan, MBTI memberikan bahasa standar. Kita jadi lebih maklum kalau rekan kerja kita sangat detail atau sangat visioner karena kita “tahu” tipe mereka.
Pintu Masuk Self-Awareness: Bagi banyak orang, MBTI adalah langkah awal untuk mulai bertanya: “Siapa saya sebenarnya?”
Bahaya Test MBTI
Inilah poin yang membuat saya gelisah. Ketika kita terlalu percaya—bahkan mengandalkan sepenuhnya—pada hasil 4 huruf tersebut, kita terjebak dalam dua bahaya besar:
1. Bahaya Mengkotak-kotakkan (Pigeonholing) Manusia itu dinamis, namun MBTI cenderung statis. Ketika Anda melabeli diri sebagai satu tipe, Anda secara tidak sadar sedang membangun tembok. Anda mungkin berkata, “Aku tidak bisa memimpin karena aku bukan tipe E,” atau “Aku tidak bisa berempati karena aku tipe T (Thinking).” Tanpa sadar, kita membatasi potensi luar biasa yang Tuhan titipkan hanya karena hasil sebuah tes.
2. Bahaya Justifikasi (Mencari Pembenaran) Ini yang paling sering terjadi di komunitas kita. MBTI sering dijadikan “kartu bebas hambatan” untuk perilaku yang seharusnya diperbaiki.
“Ya maaf kalau saya bicaranya kasar, saya kan tipe Thinking yang logis dan blak-blakan.” Di sini, MBTI tidak lagi membantu kita bertumbuh, malah menjadi alasan untuk berhenti berubah. Kepribadian bukan lagi alat refleksi, melainkan tameng untuk ego kita.
3. Identitas vs. Kecenderungan Kita harus bisa membedakan mana “Identitas” dan mana “Kecenderungan”. Identitas Anda jauh lebih dalam dari sekadar hasil tes; identitas Anda ada pada nilai-nilai, karakter, dan bagi kita yang beriman, identitas kita ada di dalam Tuhan. MBTI hanya memotret kecenderungan cara kerja otak kita, bukan menentukan siapa kita sebenarnya.
4. Mandat untuk Bertumbuh (The Call to Transformation) Dalam kepemimpinan transformasional, kita percaya bahwa setiap orang bisa dan harus bertumbuh melampaui batasannya.
- Jika Anda seorang Thinking (T), itu bukan alasan untuk tidak belajar empati.
- Jika Anda seorang Feeling (F), itu bukan alasan untuk menghindari logika yang tajam. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi “tipe kepribadian tertentu”, tapi Ia memanggil kita untuk menjadi pribadi yang utuh dan dewasa.
5. Manusia adalah “Misteri”, Bukan “Data” Jangan pernah melihat sesama Anda hanya sebagai “si ENFP” atau “si ISTJ”. Manusia adalah Imago Dei—gambar Allah yang begitu kompleks, penuh sejarah, luka, dan potensi. Ketika kita mengkotak-kotakkan orang, kita kehilangan kesempatan untuk melihat keunikan mereka yang sesungguhnya.
Usulan Berpikir: Melampaui Label
Rekan-rekan, MBTI mungkin bisa membantu Anda menjelaskan mengapa Anda merasa berbeda, tapi ia tidak boleh digunakan untuk membatasi sejauh mana Anda bisa berkembang.
Jangan mau dipenjara oleh empat huruf. Jangan gunakan hasil tes sebagai pembelaan atas karakter yang belum terasah. Mari kita gunakan alat ini dengan bijak: sebagai cermin untuk melihat kekurangan kita, lalu segera beranjak untuk memperbaikinya.
Karena pada akhirnya, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang ‘merasa paling INFJ’ atau ‘paling ENTJ’. Dunia butuh manusia yang mau terus bertumbuh, mau mendengarkan, dan mau berubah menjadi versi terbaiknya—tanpa perlu dibatasi oleh sekat-sekat kotak kepribadian.
Share artikel ini jika Anda merasakan mendapatkan value!